We Tenri Patuppu (1602–1611)
We Tenri Patuppu menggantikan
ayahnya menjadi Arumpone. Inilah Mangkau’ yang mula-mula mengangkat Arung
Pitu (tujuh pemegang adat) di Bone. Ketujuh Matowa (Kepala Wanuwa) yang
ditunjuk, adalah, Matowa Tibojong (Arung Tibojong), Matowa Ta’ (Arung
Ta’), Matowa Tanete (Arung Tanete), Tanete dipecah menjadi Tanete
Riattang dan Tanete Riawang, Matowa Macege (Arung Macege), Matowa Ujung
(Arung Ujung) dan Matowa Ponceng (Arung Ponceng).
We Tenri Patuppu berkata kepada
Arung PituE,
”Saya mengangkat kalian sebagai Arung Pitu untuk
membantu saya dalam menyelenggarakan pemerintahan di Bone. Hal ini saya lakukan
karena saya adalah seorang perempuan yang tentunya memerlukan bantuan. Namun
perlu kalian tahu bahwa saya mengangkatmu menjadi pemegang adat, tetapi kalian
tetap ; tidak bisa melangkahi adat Bone, tidak bisa menyatakan perang, tidak
bisa mewariskan kepada anak cucu, kalau saya tidak mengetahuinya. Kacuali
apabila duduk semua turunan MappajungE kemudian direstui oleh Mangkau’ Bone”.
Pada masa pemerintahan We Tenri Patuppu di Bone,
KaraengE ri Gowa datang ke Ajattappareng membawa agama Islam. Sepakatlah
TellumpoccoE (Bone, Soppeng dan Wajo) untuk menghalangi, sehingga KaraengE ri
Gowa kembali ke kampungnya. Satu tahun kemudian datang lagi KaraengE ri Gowa ke
Padangpadang, dihalangi lagi oleh TellumpoccoE. Bertemulah di sebelah timur
Bulu’ Sitoppo dan terjadilah perang yang berakhir dengan kekalahan
TellumpoccoE. Tahun berikutnya, datang lagi KaraengE ri gowa ke Soppeng. Tetapi
tidak ada lagi bantuan dari Bone dan Wajo, sehingga Soppeng dikalahkan dan
masuklah agama Islam di Soppeng. Datu Soppeng yang menerima Islam bernama
BeowE.
Setelah Soppeng menerima Islam, datang KaraengE ri
Gowa ke Wajo dan kalahlah orang Wajo. Arung Matowa Wajo yang bernama La
Sangkuru yang menerima Islam di Wajo. Sejak itu seluruh orang Wajo memeluk
Islam.
Tahun berikutnya setelah orang Wajo masuk Islam, Arumpone We Tenri Patuppu pergi ke Sidenreng untuk menanyakan tentang Islam. Ternyata begitu sampai di Sidenreng langsung masuk Islam. Di Sidenrenglah beliau sakit yang menyebabkan meninggal dunia. Oleh karena itu dinamakanlah We Tenri Patuppu MatinroE ri Sidenreng.
Tahun berikutnya setelah orang Wajo masuk Islam, Arumpone We Tenri Patuppu pergi ke Sidenreng untuk menanyakan tentang Islam. Ternyata begitu sampai di Sidenreng langsung masuk Islam. Di Sidenrenglah beliau sakit yang menyebabkan meninggal dunia. Oleh karena itu dinamakanlah We Tenri Patuppu MatinroE ri Sidenreng.
Semasa hidupnya We Tenri Patuppu kawin dengan La
Paddippung Arung Barebbo, kemudian melahirkan anak bernama La Pasoro. Inilah
yang kawin dengan We Tasi, lahirlah La Toge MatinroE ri KabuttuE. La Toge kawin
dengan We Passao Ribulu, lahirlah We Kalepu yang kawin dengan Daeng Manessa
Arung Kading.
Kemudian We Tenri Patuppu bercerai dengan Arung Barebbo, maka kawin lagi dengan To LewoE Arung Sijelling, anak Arung Mampu Riawa. Dari perkawinan ini lahirlah anaknya yang bernama La Maddussila, We Tenri Tana, We Palettei, La Palowe. La Maddussila Arung Mampu yang juga digelar MammesampatuE (memakai nisan batu). Pergi ke Soppeng dan kawin dengan We Tenri Gella, saudara Datu Soppeng yang bernama BeowE. Dari perkawinan ini lahirlah La Tenri Bali yang kawin di Bone dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Bubungeng I Dasajo.
Kemudian We Tenri Patuppu bercerai dengan Arung Barebbo, maka kawin lagi dengan To LewoE Arung Sijelling, anak Arung Mampu Riawa. Dari perkawinan ini lahirlah anaknya yang bernama La Maddussila, We Tenri Tana, We Palettei, La Palowe. La Maddussila Arung Mampu yang juga digelar MammesampatuE (memakai nisan batu). Pergi ke Soppeng dan kawin dengan We Tenri Gella, saudara Datu Soppeng yang bernama BeowE. Dari perkawinan ini lahirlah La Tenri Bali yang kawin di Bone dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Bubungeng I Dasajo.
We Bubungeng dan La Tenri Bali melahirkan anak ; La
Tenri Senge’ Toasa, inilah yang kemudian menjadi Datu Soppeng. Yang kedua
bernama We Yadda MatinroE ri Madello, kemudian menjadi Datu juga di Soppeng.
We Tenri Tana Arung Mampu Riawa kawin dengan LebbiE ri Kaju. Inilah yang melahirkan We Tenri Sengngeng yang kawin dengan La Poledatu Rijeppo saudara Datu Soppeng anak La Maddussila Arung Mampu MammesampatuE dengan isterinya We Tenri Gella. Inilah yang melahirkan La PatotongE, La PasalappoE, La Pariusi Daeng Mangatta. La Pariusi Daeng Mangatta inilah yang menggantikan Petta I Tenro menjadi Arung Mampu Riawa yang juga pernah menjadi Arung Matowa Wajo.
We Tenri Tana Arung Mampu Riawa kawin dengan LebbiE ri Kaju. Inilah yang melahirkan We Tenri Sengngeng yang kawin dengan La Poledatu Rijeppo saudara Datu Soppeng anak La Maddussila Arung Mampu MammesampatuE dengan isterinya We Tenri Gella. Inilah yang melahirkan La PatotongE, La PasalappoE, La Pariusi Daeng Mangatta. La Pariusi Daeng Mangatta inilah yang menggantikan Petta I Tenro menjadi Arung Mampu Riawa yang juga pernah menjadi Arung Matowa Wajo.
La PallempaE atau La Pasompereng Petta I Teko kawin
dengan KaraengE ri Gowa. Dari perkawinannya lahirlah We Yama dan We Alima. We
Alima kawin dengan KaraengE ri Gowa Tumenanga ri Pasi. Lahirlah I Baba Karaeng
Tallo. La Pasompereng diasingkan oleh Kompeni sebab perselingkuhan isterinya
dengan Sule DatuE di Soppeng yang bernama Daeng Mabbani. Dia membunuh Sule
datuE di Soppeng maka diasingkanlah ke Selong.
Anak terakhir dari We Tenri Patuppu MatinroE ri
Sidenreng adalah ; We Palettei KanuwangE, kawin dengan pamannya La Tenri Pale
To Akkeppeang MatinroE ri Tallo. Tidak ada keturunannya, sehingga MatinroE ri
Tallo kawin lagi dengan anak Datu Ulaweng.