Menggantikan saudaranya La Tenri Rawe sebagai Arumpone.
Kedudukan ini memang telah diserahkan ketika La Tenri Rawe masih hidup.
Bahkan La Tenri Rawe berpesan kepadanya agar nanti kalau sampai ajalnya,
La Inca dapat mengawini iparnya (isteri La tenri Rawe) yaitu We
Tenri Pakiu Arung Timurung.
Setelah menjadi Mangkau’, KaraengE ri Gowa datang
untuk menyerang Bone. Ternyata La Inca tidak mewarisi kepemimpinan yang
telah dilakukan oleh saudaranya. Banyak langkah-langkahnya yang sangat
merugikan orang banyak. Para Arung Lili dimarahi dan dihukumnya. Salah
seorang Arung Lili yang bernama La Patiwongi To Pawawoi diasingkan
ke Sidenreng. Karena sudah terlalu lama berada di Sidenreng, maka ia pun
kembali ke Bone untuk minta maaf.
Namun apa yang dialami setelah kembali ke Bone, dia
malah diusir dan dibunuh. Arung Paccing dan cucunya yang bernama La
Saliwu, Maddanreng Palakka yang bernama To Saliwu Riwawo serta
masih banyak lagi bangsawan Bone yang dibunuhnya.
Pada suatu hari dia melakukan tindakan yang sangat
memalukan yaitu mengganggu isteri orang. Karena didapati oleh suaminya, ia
lantas mengancam orang tersebut akan dibunuhnya, sehingga orang tersebut
melarikan diri. Untuk menutupi kesalahannya, isteri orang tersebut yang
dibunuh. Ia pun membakar sebahagian Bone sampai di Matajang dan Macege. Orang
Bone pun mengungsi sampai ke Majang.
Melihat orang Bone pada datang, Arung Majang bertanya,
Melihat orang Bone pada datang, Arung Majang bertanya,
”Ada apa gerangan di Bone?”
Dengan ketakutan orang Bone berkata,
”Kami tidak bisa mengatakan apa-apa, Puang. Silahkan
Puang melihat sendiri bagaimana Bone sekarang”.
Mendengar laporan orang Bone, Arung Majang keluar
melihat ke arah Bone. Disaksikannyalah api yang melalap rumah-rumah penduduk
yang dilakukan oleh La Inca. Arung Majang lalu menyuruh beberapa orang
untuk pergi ke Palakka memanggil I Damalaka. Tidak lama kemudian I
Damalaka tiba di Majang. Sesampainya di rumah Arung Majang ia pun
disuruh untuk ke Bone menghadapi La Inca.
I Damalaka menyuruh salah seorang untuk pergi menemui Arumpone
dan menyampaikan agar tindakannya itu dihentikan. Akan tetapi setelah orang itu
tiba di depan La Inca, ia pun dibunuh. Setelah itu, La Inca lalu
membakar semua rumah yang ada di Lalebbata. Maka habislah rumah di Bone.
Mendengar itu, Arung Majang pergi ke Bone
disusul oleh I Damalaka untuk menghadapi La Inca yang tidak lain adalah
cucunya sendiri.
“Mari kita menghadapi La Inca, dia bukan lagi sebagai
Arumpone karena telah melakukan pengrusakan”.
Berangkatlah semua orang mengikuti Arung Majang termasuk
I Damalaka. Didapatinya La Inca sendirian di depan rumahnya.
Setelah melihat orang banyak datang, La Inca lalu menyerbu dan menyerang
membabi buta. Banyak orang yang dibunuhnya pada saat itu dan kurang yang mampu
bertahan, akhirnya La Inca kehabisan tenaga. Karena merasa sangat payah,
ia pun melangkah menuju tangga rumahnya. Ia bersandar dengan nafas yang
terputus-putus.
Melihat cucunya sekarat, Arung Majang berlari
mendekati dan memangku kepalanya. La Inca pun menghembuskan nafasnya
yang terakhir. Oleh karena itu disebutlah MatinroE ri Addenenna (meninggal
di tangga rumahnya).
Adapun anak La Inca MatinroE ri Addenenna dari
isterinya We Tenri Pakiu Arung Timurung MaccimpoE adalah La Tenri
Pale To Akkeppeang kawin dengan kemenakannya yang bernama We Palettei KanuwangE
anak dari We Tenri Patuppu dengan suaminya To Addussila.
Kemudian La Tenri Pale kawin lagi dengan We Cuku anak Datu
Ulaweng. Dari perkawinan ini lahirlah We Pakkawe kemudian melahirkan
We Panynyiwi Arung Mare.
We Panynyiwi kawin dengan pamannya sepupu dari ibunya MatinroE ri Bukaka. Dari perkawinan ini lahirlah We Daompo yang kawin dengan La Uncu Arung Paijo. Lahirlah La Tenri Lejja. Inilah yang melahirkan La Sibengngareng yang kemudian menjadi Maddanreng di Bone.
We Panynyiwi kawin dengan pamannya sepupu dari ibunya MatinroE ri Bukaka. Dari perkawinan ini lahirlah We Daompo yang kawin dengan La Uncu Arung Paijo. Lahirlah La Tenri Lejja. Inilah yang melahirkan La Sibengngareng yang kemudian menjadi Maddanreng di Bone.
Anak La Inca berikutnya adalah We Tenri Sello
MakkalaruE kawin dengan kemenakannya yang bernama La Pancai To Patakka
Lampe Pabbekkeng, anak dari We Tenri Pala dengan suaminya To
Alaungeng Arung Sumaling. Lahirlah La Maddaremmeng MatinroE ri Bukaka,
kemudian lahir pula La Tenri Aji MatinroE ri Siang. Selanjutnya lahir We
Tenri Ampa Arung Cellu yang kawin dengan To MannippiE Arung Salangketo yang
kemudian melahirkan We Tenri Talunru.
Sumber : https://portalbugis.wordpress.com/
No comments:
Post a Comment