La Tenri Rawe Bongkang-E (1568–1584)
La Tenri Rawe BongkangE menggantikan ayahnya La Uliyo
Bote’E menjadi Arumpone. La Tenri Rawe kawin dengan We Tenri Pakiu Arung
Timurung MaccimpoE anak dari La Maddussila dengan isterinya We Tenri Lekke.
La Tenri Rawe dengan isterinya Arung Timurung
melahirkan anak yang bernama ; La Maggalatung, inilah yang dipersiapkan untuk
menjadi putra mahkota menggantikan ayahnya sebagai Arumpone, dia meninggal
dunia semasa kecil. Yang kedua bernama ; La Tenri Sompa dipersiapkan untuk
menjadi Arung Timurung, tetapi juga meninggal karena dibunuh oleh orang yang
bernama Dangkali.
Ketika menjadi Mangkau’ di Bone, La Tenri Rawe sangat
dicintai oleh orang banyak karena memiliki sifat-sifat seperti ; berbudi
pekerti yang baik, jujur, dermawan, adil dan sangat bijaksana. Dia tidak
membedakan antara keluarganya yang memiliki turunan bangsawan dengan
keluarganya dari orang biasa.
Sebagai Arumpone, La Tenri Rawe yang pertamalah membagi tugas-tugas (makkajennangeng) seperti: yang bertugas mengurus jowa (pengawal), yang bertugas mengurus anak bangsawan dan yang mengurus wanuwa.
Pada masa pemerintahannya pernah dikunjungi oleh KaraengE ri Gowa masuk ke Bone untuk menyabung ayam. Dalam pertarungan itu, ayam KaraengE ri Gowa terbunuh oleh ayam Arumpone dengan taruhan seratus kati. Pada masa pemerintahannya pula seluruh orang Ajangale’ datang menggabungkan diri di Bone. Ditaklukkanlah Awo Teko, Attassalo dan lain-lain.
Sebagai Arumpone, La Tenri Rawe yang pertamalah membagi tugas-tugas (makkajennangeng) seperti: yang bertugas mengurus jowa (pengawal), yang bertugas mengurus anak bangsawan dan yang mengurus wanuwa.
Pada masa pemerintahannya pernah dikunjungi oleh KaraengE ri Gowa masuk ke Bone untuk menyabung ayam. Dalam pertarungan itu, ayam KaraengE ri Gowa terbunuh oleh ayam Arumpone dengan taruhan seratus kati. Pada masa pemerintahannya pula seluruh orang Ajangale’ datang menggabungkan diri di Bone. Ditaklukkanlah Awo Teko, Attassalo dan lain-lain.
TellumpoccoE juga datang menggabungkan Babanna Gowa di
Bone dan diterima kemudian didudukkanlah sebagai daerah bawahan dari Bone. Hal
ini membuat KaraengE ri Gowa marah dan menyusul masuk ke Bone. Bertemulah orang
Gowa dengan orang Bone di sebelah selatan Mare dan berperang selama tujuh hari
tujuh malam, baru berdamai. Jelaslah kekuasaan orang Bone pada bahagian selatan
Sungai Tangka ke atas.
Datu Soppeng Rilau yang diturunkan dari tahtanya
datang ke Bone untuk minta perlindungan. Karena Datu Soppeng Rilau yang bernama
La Makkarodda To Tenri Bali MabbeluwaE merasa terdesak. Tidak lama setelah
berada di Bone, ia pun kawin dengan saudara Arumpone yang bernama We Tenri
Pakkuwa. Dari perkawinannya itu lahir anak perempuan , We Dangke atau We Basi
LebaE ri Mario Riwawo.
Saudara Arumpone yang bernama We Lempe kawin dengan
sepupu dua kalinya yang bernama La Saliwu Arung Palakka. Dari perkawinannya itu
melahirkan anak ; La Tenri Ruwa MatinroE ri Bantaeng kawin dengan sepupu satu
kalinya yang bernama We Dangke. La Tenri Ruwa adalah nenek MatinroE ri Bontoala.
Suatu saat, Bone didatangi oleh Gowa dan terjadilah
perang di Cellu. Perang berlangsung selama lima hari lima malam dan orang Gowa
mundur. Dua tahun kemudian datang KaraengE ri Gowa untuk menyerang lagi. Kali
ini perang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Orang Gowa mengambil
tempat pertahanan di Walenna, tetapi KaraengE ri Gowa tiba-tiba terserang
penyakit, maka ia harus kembali ke kampungnya. Konon, ketika sampai di Gowa ia
pun meninggal dunia.
Hanya kurang lebih dua bulan kemudian, datang lagi KaraengE
ri Gowa yang bernama Daeng Parukka yang menggantikan ayahnya untuk kembali
menyerang Bone. Mendengar bahwa Gowa kembali, maka seluruh orang Ajangale’ dan
orang Timurung datang membantu Bone. Adapun Limampanuwa Rilau Ale’ berkedudukan
di Cinennung.
Sementara orang Awampone berkedudukan di Pappolo
berdekatan dengan benteng pertahanan KaraengE ri Gowa. Terjadilah perang yang
sangat dahsyat. Orang Gowa menyerbu ke arah selatan, membakar Kampung Bukaka
dan Takke Ujung. Akhirnya Karaeng Gowa tewas terbunuh.
Daeng Padulung salah seorang pembesar Gowa yang
menjadi pemimpin perang nampaknya sudah kewalahan menghadapi serangan orang
Bone. Oleh karena itu Karaeng Tallo memerintahkan utusannya untuk menemui
Arumpone. Adapun yang disampaikan oleh utusan Karaeng Tallo adalah,
”Kami telah kehilangan dua Karaeng (pemimpin) yaitu
satu tewas di tempat tidur dan satu lagi tewas di lapangan. Tetapi sekarang
kami menghendaki kebaikan.”
Berkata Kajao Laliddong,
”Kalau begitu pendapatmu, besok pagi saya akan menemui
KaraengE”.
Keesokan harinya keluarlah Kajao Laliddong selaku
penasehat Arumpone untuk menemui KaraengE ri Tallo. Dalam pertemuannya itu,
terjadilah kesepakatan mengangkat Daeng Patobo menjadi Karaeng ri Gowa.
Ketika menjadi Arumpone La Tenri Rawe BongkangE pernah bertentangan dengan Datu Luwu yang bernama Sagariya karena orang Luwu naik lagi ke Cenrana. Maka wanuwa Cenrana telah dua kali direbut dengan kekuatan senjata (riala bessi) oleh orang Bone.
Ketika menjadi Arumpone La Tenri Rawe BongkangE pernah bertentangan dengan Datu Luwu yang bernama Sagariya karena orang Luwu naik lagi ke Cenrana. Maka wanuwa Cenrana telah dua kali direbut dengan kekuatan senjata (riala bessi) oleh orang Bone.
Untuk memperkuat kedudukan Bone sebagai suatu kerajaan
yang tangguh, La Tenri Rawe menjalin hubungan kerja sama dengan Arung Matowa
Wajo yang bernama To Uddamang. Begitu juga dengan Datu Soppeng yang bernama
PollipuE. Maka diadakanlah pertemuan di Cenrana untuk memperkuat hubungan
antara Bone, Soppeng dan Wajo.
Adapun kesepakatan yang diambil di Cenrana adalah
ketiganya akan mengadakan pertemuan lanjutan di Timurung. Setelah sampai pada
waktu yang telah ditentukan, maka berkumpullah orang Bone, orang Soppeng dan
orang Wajo di suatu tempat yang bernama Bunne. Ketiganya mengucapkan ikrar,
”Tessiabiccukeng – Tessiacinnai ulaweng tasa – Pattola
malampe waramparang maega” (tidak saling memandang rendah – tidak saling iri
hati – saling mengakui kepemilikan). Setelah itu barulah ketiganya mallamumpatu
(meneggelamkan batu) sebagai tanda kuatnya perjanjian tersebut, sehingga
disebutlah – LamumpatuE ri Timurung.”
Inilah catatan yang menjelaskan TellumpoccoE (Bone –
Soppeng – Wajo) yang terkandung dalam perjanjian yang diadakan oleh La Tenri
Rawe BongkangE (Bone), To Uddamang (Wajo) dan La Mata Esso (Soppeng).
Ketika sampai pada hari yang telah disepakati, bertemulah di Timurung. Datanglah Arumpone, diikuti oleh seluruh Palili Bone. Datang juga Arung Matowa Wajo yang bernama La Mungkace To Uddamang MatinroE ri Kanana. Selanjutnya datang juga Datu Soppeng yang bernama La Mappaleppe PatolaE Arung Belo MatinroE ri Tanana. Diikuti pula oleh seluruh Palili Soppeng dan Wajo.
Ketika sampai pada hari yang telah disepakati, bertemulah di Timurung. Datanglah Arumpone, diikuti oleh seluruh Palili Bone. Datang juga Arung Matowa Wajo yang bernama La Mungkace To Uddamang MatinroE ri Kanana. Selanjutnya datang juga Datu Soppeng yang bernama La Mappaleppe PatolaE Arung Belo MatinroE ri Tanana. Diikuti pula oleh seluruh Palili Soppeng dan Wajo.
Pertemuan tiga kerajaan yang lebih dikenal dengan nama
Pertemuan TellumpoccoE tersebut diadakan di Timurung di suatu kampung kecil
yang bernama Bunne. Dalam pertemuan tersebut Arung Matowa Wajo bertanya kepada
Arumpone,
”Bagaimana mungkin Arumpone, untuk kita hubungkan
tanah kita bertiga, sementara Wajo adalah kekuasaan Gowa. Kemudian kita tahu
bahwa antara Bone dengan Gowa juga memiliki hubungan yang kuat”.
Arumpone menjawab,
”Itu pertanyaan yang bagus Arung Matowa. Tetapi yang
menjalin hubungan disini adalah Bone, Soppeng dan Wajo. Selanjutnya Bone
menjalin hubungan dengan Gowa. Kalau Gowa masih mau menguasai Wajo, maka kita
bertiga melawannya”.
Pernyataan Arumpone tersebut diiyakan oleh Arung
Matowa Wajo. Berkata pula PollipuE ri Soppeng,
”Bagus sekali pendapatmu Arumpone, tanah kita bertiga
bersaudara. Tetapi saya minta agar tanah Soppeng adalah pusaka tanah Bone dan Wajo.
Sebab yang namanya bersaudara, berarti sejajar”.
Arumpone menjawab,
”Bagaimana pendapatmu Arung Matowa, sebab menurutku
apa yang dikatakan oleh PollipuE adalah benar”.
Arung Matowa Wajo menjawab,
”Saya kira tanah kita bertiga akan rusak apabila ada yang
namanya – sipoana’ (ada yang menganggap dirinya tua dan ada yang muda).”
Berkata lagi Arumpone,
”Saya setuju dengan itu, tetapi tidak apalah saya
berikan kepada Soppeng Gowagowa dan sekitarnya untuk penambah daki, agar tanah
kita bertiga tetap bersaudara”.
Berkata pula Arung Matowa Wajo,
”Bagus pendapatmu Arumpone, saya juga akan memberikan
Soppeng penambah daki yaitu Baringeng, Lompulle dan sekitarnya”.
Datu Soppeng dan Tau TongengE berkata,
”Terima kasih atas maksud baikmu itu, karena tanah
kita bertiga telah bersaudara, tidak saling menjerumuskan kepada hal yang tidak
dikehendaki, kita bekerja sama dalam hal yang kita sama kehendaki”.
Berkata Arumpone dan Arung Matowa Wajo,
”Kita bertiga telah sepakat, maka baiklah kita bertiga
meneggelamkan batu, disaksikan oleh Dewata SeuwaE, siapa yang mengingkari
perjanjiannya dialah yang ditindis oleh batu itu”.
Berkatalah Arung MatowaE ri Wajo kepada Kajao
Laliddong sebagai orang pintarnya Bone,
”Janganlah dulu menanam itu batu, Kajao! Sebab saya
masih ada yang akan kukatakan bahwa persaudaraan TellumpoccoE tidak akan saling
menjatuhkan, tidak saling berupaya kepada hal-hal yang buruk, janganlah kita
mengingkari perjanjian, siapa yang tidak mau diingatkan, dialah yang kita
serang bersama (diduai), dia yang kita tundukkan”.
Pernyataan Arung MatowaE tersebut disetujui oleh
Arumpone dan Datu Soppeng. Setelah itu ketiganya berikrar untuk ; ”Malilu
sipakainge – rebba sipatokkong – sipedapiri ri peri’ nyameng – tellu
tessibaicukkeng – tessi acinnai ulaweng tasa – pattola malampe waramparang
maega – iya teya ripakainge iya riadduai” (yang khilaf diingatkan – yang rebah
ditopang – saling menyampaikan kesulitan dan kesenangan – tiga tidak ada yang
dikecilkan – tidak saling merebut kekayaan – saling mengakui hak kepemilikan).
Inilah isi perjanjian TellumpoccoE yang ditindis batu
di Timurung, disaksikan oleh Dewata SeuwaE. Ikrar kesetiaan ini dipegang
erat-erat oleh ketiganya.
Dua tahun setelah perjanjian TellumpoccoE, La Tenri
Rawe BongkangE memanggil saudaranya yang bernama La Inca. Kepada La
Inca, La Tenri Rawe menyampaikan bahwa setelah sampai ajalnya, maka
saudaranyalah La Inca yang diserahkan kedudukan sebagai Mangkau’ di
Bone karena dirinya tidak memiliki ana’ pattola (putra mahkota).
Karena pada saat meninggal, jenazahnya dibakar dan
abunya dimasukkan ke dalam guci, maka digelarlah La Tenri Rawe BongkangE
MatinroE ri Gucinna.
Sumber : https://portalbugis.wordpress.com/
No comments:
Post a Comment