La Tenri Sukki (1516 – 1543) 27 tahun
Inilah Mangkau’ di Bone yang diserang oleh Datu Luwu
yang bernama Dewa Raja yang digelar Batara Lattu. Mula-mula orang
Luwu mendarat di Cellu dan disitulah membuat pertahanan. Sementara orang Bone
berkedudukan di Biru-biru.
Adapun taktik yang dilakukan oleh orang Bone adalah
memancing orang Luwu dengan beberapa perempuan. Pancingan ini berhasil
mengelabui orang Luwu sehingga pada saat perang berlangsung orang Luwu yang
pada mulanya menyangka tidak ada laki-laki, bersemangat menghadapi
perempuan-perempuan tersebut. Namun dari belakang muncul laki-laki dengan
jumlah yang amat banyak, sehingga orang Luwu berlarian ke pantai untuk naik ke
perahunya. Dalam perang itu orang Bone berhasil merampas bendera orang Luwu.
Setelah perang selesai, Arumpone dan Datu Luwu mengadakan pertemuan. Arumpone mengembalikan payung warna merah itu kepada Datu Luwu, tetapi Datu Luwu mengatakan,
Setelah perang selesai, Arumpone dan Datu Luwu mengadakan pertemuan. Arumpone mengembalikan payung warna merah itu kepada Datu Luwu, tetapi Datu Luwu mengatakan,
”Ambillah itu payung sebab memang engkaulah yang
dikehendaki oleh DewataE (Tuhan) untuk bernaung di bawahnya. Walaupun bukan
karena perang engkau ambil, saya akan tetap berikan. Apalagi saya memang
memiliki dua payung”.
Mulai dari peristiwa itu , La Tenri Sukki digelar
Mappajung-E (memakai payung). Selanjutnya La Tenri Sukki mengadakan lagi
pertemuan dengan Datu Luwu To Serangeng Dewa Raja dan lahirlah suatu
perjanjian yang bernama, Polo MalelaE ri Unynyi (gencatan senjata di
Unynyi). Dalam perjanjian ini Arumpone La Tenri Sukki berkata kepada Datu Luwu,
”Alangkah baiknya kalau kita saling menghubungkan
Tanah Bone dengan Tanah Luwu”.
Dijawab oleh Datu Luwu,
”Baik sekali pendapatmu itu, Arumpone”.
Merasa ajakannya disambut baik,Arumpone berkata,
”Kalau ada yang keliru, mari kita saling mengingatkan;
kalau ada yang rebah mari kita saling menopang, dua hamba satu Arung; tindakan
Luwu adalah tindakan Bone, tindakan Bone adalah tindakan Luwu; baik dan buruk
kita bersama, tidak saling membunuh, saling mencari kebaikan, tidak saling
mencurigai, tidak saling mencari kesalahan; walaupun baru satu malam orang Luwu
berada di Bone, maka menjadilah orang Bone; walaupun baru satu malam orang Bone
berada di Luwu, maka menjadilah orang Luwu; bicaranya Luwu, bicaranya Bone
–bicaranya Bone, bicaranya Luwu; adatnya Luwu, adatnya juga Bone, begitu pula
sebaliknya; kita tidak saling menginginkan emas murni dan harta benda; barang
siapa yang tidak mengingat perjanjiannya, maka dialah yang dikutuk oleh Dewata
SeuwaE sampai kepada anak cucunya, dialah yang hancur bagaikan telur yang jatuh
ke batu.”
Kalimat ini diiyakan oleh Datu Luwu To Serangeng Dewa
Raja. Perjanjian ini bernama ”Polo MalelaE ri Unynyi” karena terjadi di
Kampung Unynyi. Kemudian keduanya kembali ke negerinya.
Dimasa pemerintahan La Tenri Sukki, pernah pula
terjadi permusuhan antara orang Bone dengan orang Mampu. Pertempuran terjadi di
sebelah selatan Itterung, diburu sampai di kampungnya. Arung Mampu yang bernama
La Pariwusi kalah dan menyerahkan persembahan kepada Arumpone. Arung
Mampu berkata,
”Saya serahkan sepenuhnya kepada Arumpone, asalkan
tidak menurunkan saya dari pemerintahanku.”
Arumpone menjawab,
”Saya akan mengembalikan persembahanmu dan saya akan
mendudukkanmu sebagai Palili (wilayah bawahan) di Bone. Akan tetapi
engkau harus berjanji untuk tidak berpikir jelek dan jujur sebagai pewaris
harta benda”.
Sesudah itu, dilantiklah Arung Mampu memimpin
kampungnya dan kembalilah Arumpone ke Bone.
La Tenri Sukki menjadi Mangkau’ di Bone selama 20
tahun, akhirnya menderita sakit. Dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan
menyampaikan,
”Saya sekarang dalam keadaan sakit, apabila saya wafat
maka yang menggantikan saya adalah anakku yang bernama La Uliyo”.
Setelah pesan itu disampaikan, ia pun menghembuskan
nafasnya yang terakhir.
Anak La Tenri Sukki dari isterinya We Tenri
Songke, adalah La Uliyo Bote’E kawin dengan sepupunya yang bernama We
Tenri Wewang DenraE, anak saudara kandung La Tenri Sukki yang
bernama We Tenri Sumange’ dengan suaminya yang bernama La Tenri
Giling Arung Pattiro Maggading-E. Dari perkawinan ini lahirlah La Tenri
Rawe Bongkang-E, La Inca, We Lempe, We Tenri Pakkuwa.
Selain La Uliyo, ialah We Denra Datu, We
Sida (tidak disebutkan dalam lontara’ yang digulung).
We Sida Manasa kawin dengan La Burungeng Daeng Patompo, anak dari La Panaongi To Pawawoi Arung Palenna dari isterinya yang bernama We Mappasunggu. Dari perkawinan ini lahirlah anak laki-laki yang bernama La Paunru Daeng Kelli.
We Sida Manasa kawin dengan La Burungeng Daeng Patompo, anak dari La Panaongi To Pawawoi Arung Palenna dari isterinya yang bernama We Mappasunggu. Dari perkawinan ini lahirlah anak laki-laki yang bernama La Paunru Daeng Kelli.
Sumber : https://portalbugis.wordpress.com/
No comments:
Post a Comment