La Uliyo Bote’E menggantikan ayahnya La Tenri Sukki
sebagai Mangkau’ di Bone. Digelar Bote’E karena dia memiliki postur tubuh yang
subur (gempal). Konon sewaktu masih kanak-kanak ia sudah kelihatan besar dan
kalau diusung, pengusung lebih dari tujuh orang.
La Uliyo dikenal suka menyabung ayam, kawin dengan We
Tenri Wewang DenraE anak Arung Pattiro MaggadingE dengan isterinya We Tenri
Sumange’.
Arumpone inilah yang pertama didampingi oleh Kajao
Laliddong. Dia pulalah yang mengadakan perjanjian dengan KaraengE ri Gowa yang
bernama Daeng Matanre. Dalam perjanjian tersebut dijelaskan Sitettongenna
SudengngE – Lateya Riduni di Tamalate,
”Kalau ada kesulitan Bone, maka laut akan berdaun untuk
dilalui oleh orang Mangkasar. Kalau ada kesulitan orang Gowa, maka gundullah
gunung untuk dilalui orang Bone. Tidak saling mencurigai, tidak saling
bermusuhan Bone dengan Gowa, saling menerima dan saling memberi, siapa yang
memimpin Gowa, dialah yang melanjutkan perjanjian ini, siapa yang memimpin Bone
dialah yang melanjutkan perjanjian ini sampai kepada anak cucunya. Barang siapa
yang mengingkari perjanjian ini, pecahlah periuk nasinya – seperti pecahnya
telur yang jatuh ke batu”.
Arumpone inilah yang mengalahkan Datu Luwu yang
tinggal di Cenrana. Pada masa pemerintahannya pulalah Bone mulai dikuasai oleh
Gowa. Dalam lontara’ dijelaskan bahwa KaraengE ri Gowa duduk bersama Arumpone
di sebelah selatan Laccokkong.
Pada saat itu antara orang Bone dengan orang Gowa
saling membunuh. Kalau orang Gowa yang membunuh, maka Arumpone yang mengurus
jenazahnya. Begitu pula kalau orang Bone yang membunuh, maka KaraengE ri Gowa
yang mengurus jenazahnya. Arumpone ini pula yang menemani KaraengE ri Gowa
pergi meminta persembahan orang Wajo di Topaceddo.
Setelah genap 25 tahun menjadi Mangkau’ di Bone,
dikumpulkanlah seluruh orang Bone. Setelah semuanya berkumpul, disampaikanlah
bahwa,
”Saya akan menyerahkan Akkarungeng ini kepada anakku
yang bernama La Tenri Rawe”.
Mendengar pernyataan Arumpone tersebut, seluruh orang
Bone setuju. Maka dilantiklah anaknya menjadi Arumpone. Acara pelantikan itu
berlangsung meriah selama tujuh hari tujuh malam.
Karena kedudukannya sebagai Arumpone telah diserahkan
kepada anaknya, maka La Uliyo Bote’E hanya bolak balik antara isterinya di Bone
dengan isterinya di Mampu.
La Uliyo Bote’E pernah memarahi kemenakannya yang
bernama La Paunru dengan sepupunya yang menjadi Arung Paccing yang bernama La
Mulia. Keduanya pergi meminta bantuan kepada Kajao Laliddong agar diminta
maafkan. Tetapi sebelum rencana itu terlaksana, La Uliyo Bote’E pergi ke Mampu
untuk menyabung ayam. Tiba-tiba ia melihat kemenakannya dan sepupunya membuat
hatinya semakin dongkol. Ia pun segera kembali ke Bone.
La Paunru dan La Mulia berpendapat lebih baik kita
menyerahkan diri kepada Kajao Laliddong di Bone untuk selanjutnya diminta
maafkan kepada Bote’E. Makanya setelah Bote’E meninggalkan Mampu, keduanya
mengikut dari belakang.
Setelah sampai di Itterung, La Uliyo Bote’E menoleh ke
belakang, dilihatnya La Paunru bersama La Mulia berjalan mengikutinya. Karena
disangkanya La Paunru dan La Mulia berniat jahat terhadapnya, maka ia pun
berbalik menyerangnya. La Paunru dan La Mulia walaupun tidak bermaksud melawan,
namun karena terdesak oleh serangan La Uliyo akhirnya keduanya terpaksa
melawan. Dalam perkelahian tersebut, baik La Paunru maupun La Uliyo tewas di
tempat, sedangkan La Mulia dibunuh oleh orang yang datang membantu La
Uliyo.Sejak itu, digelarlah La Uliyo Bote’E MatinroE ri Itterung.
Adapun anak La Uliyo Bote’E dari isterinya yang
bernama We Tenri Wewang DenraE, adalah La Tenri Rawe BongkangE. Inilah yang
menggantikannya sebagai Mangkau’ di Bone. La Tenri Rawe kawin dengan We Tenri
Pakiu Arung Timurung MaccimpoE.
Anak berikutnya adalah La Inca, dialah yang
menggantikan saudaranya menjadi Mangkau’ di Bone. La Inca kawin dengan janda
saudaranya, We Tenri Pakiu Arung Timurung MaccimpoE.
Anaknya yang berikut, We Lempe yang kawin dengan
sepupu dua kalinya yang bernama La Saliwu Arung Palakka, anak dari We
Mangampewali I Damalaka dengan suaminya La Gome. Dari perkawinan ini lahirlah
La Tenri Ruwa Arung Palakka MatinroE ri Bantaeng.
Selanjutnya We Tenri Pakkuwa, kawin dengan La
Makkarodda To Tenri Bali Datu Mario. Sesudah We Tenri Pakkuwa adalah We Danra
MatinroE ri Bincoro. Tidak disebutkan turunannya dalam lontara.’
Adapun anak La Uliyo Bote’E dari isterinya yang
bernama We Tenri Gau Arung Mampu adalah We Balole I Dapalippu. Inilah yang
kawin dengan paman sepupu ayahnya yang bernama La Pattawe Arung Kaju MatinroE
ri Bettung, anak dari saudara La Tenri Sukki MappajungE yang bernama La
Panaongi To Pawawoi Arung Palenna dengan isterinya We Tenri Esa’ Arung Kaju.
Sesudah We Balole adalah Sangkuru’ Dajeng Petta
BattowaE Massao LampeE ri Majang. Dia digelar pula sebagai Arung Kung, tidak
disebutkan keturunannya dalam lontara’.
Sumber : https://portalbugis.wordpress.com/
No comments:
Post a Comment