La Saliyu
Karampeluwa (1424–1496) 72 tahun
Masa kecil La Saliyu Karampeluwa di asuh oleh We
Samateppa, saudara perempuan La Ummasa.
::Masa Pemerintahan::
Bertahtahnya La Saliyu di Kerajaan Bone tidak
serta merta menghilangkan peran penting saudara sepupunya, To Suwalle dan
To Sulawekka.Tugas berat justru menantinya. Ayahandanya (La Ummasa)
memberi tugas kepada keduanya untuk menjalankan roda pemerintahan sementara
mengingat La Saliyu masih bayi. To Sulawekka diserahi tugas untuk
mengurus hubungan dengan kerajaan luar, semacam Menteri Luar Negeri, dalam hal
ini dikenal dengan istilah Makkedang Tana. Sementara To
Suwalle dipercaya memangkunya jabatan sebagai juru bicara yang
bertugas memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebijakan-kebijakan
kerajaan. Jabatan ini lah yang kemudian pada pemerintahan raja-raja selanjutnya
menjadi jabatan strategis, yakni sebagai To Marilaleng. Oleh karena itu,
La Ummasa juga merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan
dasar-dasar sistem perintahan di kerajaan Bone.
Memasuki usia dewasa, barulah La Saliyu Karampeluwa
mengunjungi orang tuanya di Palakka. Sesampainya di Palakka, kedua orang
tuanya sangat gembira dan diberikanlah pusakanya yang menjadi miliknya, juga
Pasar Palakka. Sejak itu orang tidak lagi berpasar di Palakka tapi pindah ke
Bone.
Pada masa pemerintahannya, La Saliyu Karampeluwa
sangat dicintai oleh rakyatnya karena memiliki sifat-sifat; rajin, jujur,
cerdas, adil dan bijaksana. Ia juga dikenal pemberani dan tidak pernah gentar
menghadapi musuh. Konon sejak masih bayi tidak pernah terkejut bila
mendengarkan suara-suara aneh atau suara-suara besar.
La Saliyu Karampeluwa pulalah yang memulai mengucapkan
ada passokkang (mosong/angngaru) terhadap musuh, sebagaimana yang pernah
dilakukan oleh arung-arung terdahulu seperti yang tercatat dalam Galigo. Ia
pula yang membuat bate (bendera) yang bernama; CellaE ri abeo dan CellaE ri
atau (Merah di sebelah kiri dan Merah di sebelah kanan WoromporongE).
Pada saat itu orang Bone terbagi atas tiga bahagian
dan masing-masing bahagian bernaung di bawah bendera tersebut. Yang bernaung di
bawah bendera WoromporongE adalah Arumpone sendiri dan orang Majang sebagai
pembawanya. Yang bernaung di bawah bendera CellaE ri atau adalah orang Paccing,
Tanete, Lemolemo, Melle, Macege, Belawa pembawanya adalah Kajao Paccing.
Sedangkan yang bernaung di bawah bendera CellaE ri abeo adalah orang Araseng,
Ujung, Ta’, Katumpi, Padaccengnga, Madello, pembawanya adalah Kajao Araseng.
Untuk memperluas wilayah kerajaannya, La Saliyu
Karampeluwa menaklukkan negeri-negeri sekitarnya seperti; Pallengoreng, Sinri,
Anro Biring, Melle, Sancereng, Cirowali, Bakke, Apala, Tanete, Attang Salo,
Soga, Lampoko, Lemoape, Bulu Riattang Salo, Parigi, Lompu. Pada masa
pemerintahannya dia mempersatukan orang Bone dengan orang Palakka yang membuat
Palakka sebagai wilayah bawahan dari Bone.
Beberapa negeri berikutnya menyatakan diri bernaung di
bawah pemerintahannya, seperti; LimampanuwaE ri Alau Ale’ (Lanca, Otting,
Tajong, Ulo dan Palongki). Datang pula Arung Baba UwaE yang bernama La Tenri
Waru menemui menantunya menyatakan bernaung di bawah Kerajaan Bone. Begitu pula
Arung Barebbo dan Arung Pattiro yang bernama La Paonro menemui iparnya
menyatakan bernaung di bawah Kerajaan Bone, juga Arung Cina, Ureng dan Pasempe.
Arung Kaju yang bernama La Tenri Bali di samping
datang untuk menyatakan diri bergabung dengan Bone, sekaligus melamar anak
Arumpone yang bernama We Banrigau dan dutanya diterima.
Selanjutnya Arung Ponre, LimaE Bate ri Attangale’,
AseraE Bate ri Awangale’ datang bergabung dengan Bone. Boleh dikata pada saat
pemerintahannya, seluruh wilayah disekitarnya menyatakan diri bergabung dengan
Bone.
La Saliyu Karampeluwa dikenal sangat mencintai dan
menghormati kedua orang tuanya. Hamba sendirinya dikeluarkan dari Saoraja dan
ditempatkan di Panyula. Sementara hamba yang didapatkan setelah menjadi
Arumpone di tempatkan di Limpenno. Orang Panyula dan orang Limpennolah yang
mempersembahkan ikan. Dia pula yang menjadi pendayung perahunya dan
pengusungnya jika Arumpone bepergian jauh.
::Masa Akhir Pemerintahan::
Setelah genap 72 tahun menjadi Mangkau’ di Bone,
dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan bahwa,
”Saya mengumpulkan kalian untuk memberitahukan bahwa
mengingat usia saya sudah tua dan kekuatan saya sudah semakin melemah, maka
saya bermaksud untuk memindahkan kekuasaan saya sebagai Mangkau’ di Bone.
Pengganti saya adalah anak saya yang bernama We Banrigau Daeng Marowa yang
digelar MakkaleppiE-Arung Majang”.
Mendengar itu, semua orang Bone menyatakan setuju.
Maka dikibarkanlah bendera WoromporongE. Setelah itu berkata lagi Arumpone,
”Di samping saya menyerahkan kekuasaan, juga saya
serahkan perjanjian yang telah disepakati oleh orang Bone dengan Puatta Mulaiye
Panreng untuk dilanjutkan oleh anak saya”.
Setelah orang Bone kembali, hanya satu malam saja
Arumpone meninggal dunia.
::Silsilah::
La Saliyu Karampeluwa dikawinkan oleh
orang tuanya dengan sepupunya yang bernama We Tenri Roppo anak pattola (putri
mahkota) Arung Paccing. Dari perkawinan itu lahirlah We Banrigau Daeng Marowa
digelar MakkaleppiE kemudian menjadi Arung Majang, We Pattana Daeng Mabela.
Sementara bagi orang Bukaka, sebahagian dibawa ke Majang. Mereka itulah yang
menjadi rakyat MakkaleppiE yang mendirikannya Sao LampeE di Bone, yang diberi
nama Lawelareng. Oleh karena itu, maka digelarlah MakkaleppiE–Massao LampeE
Lawelareng. Bagi orang banyak menyebutnya, Puatta Lawelareng.
Anak La Saliyu Karampeluwa dengan isterinya We Tenri
Roppo Arung Paccing, adalah ; We Banrigau Daeng Marowa MakkaleppiE kawin dengan
sepupunya yang bernama La Tenri Bali Arung Kaju. Dari perkawinan itu lahirlah
La Tenri Sukki, La Panaungi To Pawawoi Arung Palenna, La Pateddungi To Pasampoi,
La Tenri Gora Arung Cina juga Arung di Majang, La Tenri Gera’ To Tenri Saga, La
Tadampare (meninggal dimasa kecil), We Tenri Sumange’ Da Tenri Wewang, We Tenri
Talunru Da Tenri Palesse.
Adapun anak La Saliyu Karampeluwa dari isterinya yang
bernama We Tenro Arung Amali yaitu La Mappasessu kawin dengan We Tenri Lekke’.
La Saliyu Karampeluwa tiga bersaudara. Saudara
perempuannya yang bernama We Tenri Pappa kawin dengan La Tenri Lampa Arung Kaju
melahirkan La Tenri Bali (suami We Banrigau), sedangkan saudara perempuannya
yang bernama We Tenri Roro kawin dengan La Paonro Arung Pattiro, lahirlah La
Settia Arung Pattiro yang selanjutnya kawin dengan We Tenri Bali.
Sumber : https://portalbugis.wordpress.com/
No comments:
Post a Comment