Saturday, 26 December 2015

Sejarah Raja Bone Ke-2 La Ummasa, Besi dan Budaya Siri



Raja La Ummasa, Besi dan Budaya Siri

Zaman Logam dan Sejarah Peradaban Bugis
Secara geografis peradaban Bugis berkembang di sebagian besar pulau Sulawesi terutama di bagian selatan. Sekitar tahun 1600-an sebelum bangsa Eropa (Belanda, Denmark, Inggris, Prancis dan Portugis) datang dengan kepentingan politik dagangnya, peradaban Bugis bisa di identifikasi dengan adanya kerajaan-kerajaan Bugis yang pernah ada (Bone, Wajo, Soppeng, Sidenreng, dll.) atau persekutuan kerajaan kecil seperti yang terdapat di sekitar Pare-pare dan Suppa serta pantai barat sampai Barru, dan wilayah Sinjai serta Bulukumba di sebelah tenggara dan selatan Sulawesi Selatan.
Kemajuan peradaban Bugis tidak lepas dari sejarah penaklukan kerajaan-kerajaan Bugis terhadap daerah-daerah yang ada disekitarnya serta keterampilan mereka mengolah logam seperti besi, emas dan perak menjadi perkakas yang berguna untuk kehidupan. Orang-orang yang memiliki keahlian mengolah besi menjadi perkakas dinamai panre bessi atau panrita bessi (pandai besi). Mereka kemudian menjadi bagian penting dalam sebuah struktur kerajaan-kerajaan Bugis yang pernah ada. Ada dua hal yang mendasari pentingnya posisi panre bessi (pandai besi) dalam struktur kerajaan. Pertama, kemampuan panre bessi menghasilkan perkakas seperti uwase (kapak), palepping (beliung), bangkung (parang), kandao (sabit), su’bbe (suduk tanah), bingkung (cangkul) dan sui (mata bajak), merupakan alat-alat penting untuk pengembangan pertanian, sehingga pandai besi ikut pula menentukan kehidupan dan kemakmuran suatu kerajaan. Kedua, kemampuan menghasilkan alameng (pedang bugis) tappi (keris bugis), kawali (badik) dan mata bessi (mata tombak) merupakan alat-alat persenjataan yang sangat penting dalam peperangan (Pelras, 2006:297).
Periode La Ummasa Petta Panre Bessie Mulaiye Panre (1365 – 1398)
Naskah manuskrip kerajaan Bone (Lontaraq Akkarungeng Ri Bone) mencatat La Ummasa merupakan Mangkau atau raja Bone ke II yang memerintah pada tahun 1365-1398. Merupakan anak dari Manurungnge Ri Matajang Mata silompoe, tokoh setengah mitos yang dipercaya turun dari dunia atas. La Ummasa bergelar “Petta Panre Bessie Mulaiye Panre” Tuan kita sang pandai besi. Beliau dikenal sebagai raja yang memiliki kecakapan dalam urusan pemerintahan dan dikenal sangat mahir dalam penempaan besi. Di bawah kendali beliau kerajaan Bone berkembang menjadi kerajaan besar yang tentu saja didukung dengan sistem persenjataan yang begitu kuat dan lengkap.
Makam La Ummasa Petta Panre Bessie (1365-1398)

Dalam sejarah peradaban Bugis sosok La Ummasa bukanlah orang yang pertama memulai penempaan besi akan tetapi beliau dikenal sebagai sosok yang banyak melahirkan inovasi baru dalam hal penempaan besi. Inovasi beliau banyak melahirkan ragam jenis senjata tradisional Bugis, perkakas pertanian dan peralatan rumah tangga. La Ummasa menjadi salah satu cikal bakal lahirnya panre bessi (pandai besi) di beberapa kerajaan Bugis yang pernah ada. Salah satu panre bessi (pandai besi) yang tersohor dalam sejarah peradaban Bugis yakni Panre Baitullah juga merupakan keturunan langsung dari La Ummassa. Beberapa keturunan langsung beliau sampai hari ini masih dapat kita jumpai di wilayah kabupaten Bone, Soppeng serta di daerah Babang Larompong Selatan kabupaten Luwu.
Budaya Siri dan Pesse
Dalam kehidupan orang Bugis siri merupakan unsur yang sangat prinsipil. Tidak ada satu nilai pun yang paling berharga untuk dibela dan dipertahankan di muka bumi ini selain dari pada siri. Siri menyangkut harga diri orang Bugis dalam mempertahankan harkat, derajat dan martabat. Orang-orang yang masih berpegang teguh pada hal tersebut rela mengorbankan apa saja, termasuk jiwa dan raganya sekalipun demi menegakkan siri itu sendiri.
Dalam ranah keluarga seorang laki-laki dianggap sebagai garda terdepan dalam penegakan siri terutama menjaga kehormatan kaum perempuan. Begitupun dengan pesse yang senantiasa sejalan dengan penegakan siri. Pesse sendiri dimaknai sebagai budaya empati yang berhubungan erat dengan identitas anggota kelompok sosial. Rasa saling pesse (empati) adalah kekuatan dalam mempersatukan kelompok sosial orang Bugis. Siri dan pesse merupakan sesuatu yang berkesinambungan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Pepatah Bugis mengatakan, “Kalaupun saudaraku sesama Bugis tidak menaruh siri atasku, setidaknya dia pasti masih menyisahkan pesse”

Sumber : https://portalbugis.wordpress.com/

No comments:

Post a Comment