Raja La Ummasa, Besi dan Budaya Siri
Zaman Logam dan Sejarah Peradaban Bugis
Secara geografis peradaban Bugis berkembang di
sebagian besar pulau Sulawesi terutama di bagian selatan. Sekitar tahun 1600-an
sebelum bangsa Eropa (Belanda, Denmark, Inggris, Prancis dan Portugis) datang
dengan kepentingan politik dagangnya, peradaban Bugis bisa di identifikasi
dengan adanya kerajaan-kerajaan Bugis yang pernah ada (Bone, Wajo, Soppeng,
Sidenreng, dll.) atau persekutuan kerajaan kecil seperti yang terdapat di
sekitar Pare-pare dan Suppa serta pantai barat sampai Barru, dan wilayah Sinjai
serta Bulukumba di sebelah tenggara dan selatan Sulawesi Selatan.
Kemajuan peradaban Bugis tidak lepas dari sejarah penaklukan kerajaan-kerajaan Bugis terhadap daerah-daerah yang ada disekitarnya serta keterampilan mereka mengolah logam seperti besi, emas dan perak menjadi perkakas yang berguna untuk kehidupan. Orang-orang yang memiliki keahlian mengolah besi menjadi perkakas dinamai panre bessi atau panrita bessi (pandai besi). Mereka kemudian menjadi bagian penting dalam sebuah struktur kerajaan-kerajaan Bugis yang pernah ada. Ada dua hal yang mendasari pentingnya posisi panre bessi (pandai besi) dalam struktur kerajaan. Pertama, kemampuan panre bessi menghasilkan perkakas seperti uwase (kapak), palepping (beliung), bangkung (parang), kandao (sabit), su’bbe (suduk tanah), bingkung (cangkul) dan sui (mata bajak), merupakan alat-alat penting untuk pengembangan pertanian, sehingga pandai besi ikut pula menentukan kehidupan dan kemakmuran suatu kerajaan. Kedua, kemampuan menghasilkan alameng (pedang bugis) tappi (keris bugis), kawali (badik) dan mata bessi (mata tombak) merupakan alat-alat persenjataan yang sangat penting dalam peperangan (Pelras, 2006:297).
Kemajuan peradaban Bugis tidak lepas dari sejarah penaklukan kerajaan-kerajaan Bugis terhadap daerah-daerah yang ada disekitarnya serta keterampilan mereka mengolah logam seperti besi, emas dan perak menjadi perkakas yang berguna untuk kehidupan. Orang-orang yang memiliki keahlian mengolah besi menjadi perkakas dinamai panre bessi atau panrita bessi (pandai besi). Mereka kemudian menjadi bagian penting dalam sebuah struktur kerajaan-kerajaan Bugis yang pernah ada. Ada dua hal yang mendasari pentingnya posisi panre bessi (pandai besi) dalam struktur kerajaan. Pertama, kemampuan panre bessi menghasilkan perkakas seperti uwase (kapak), palepping (beliung), bangkung (parang), kandao (sabit), su’bbe (suduk tanah), bingkung (cangkul) dan sui (mata bajak), merupakan alat-alat penting untuk pengembangan pertanian, sehingga pandai besi ikut pula menentukan kehidupan dan kemakmuran suatu kerajaan. Kedua, kemampuan menghasilkan alameng (pedang bugis) tappi (keris bugis), kawali (badik) dan mata bessi (mata tombak) merupakan alat-alat persenjataan yang sangat penting dalam peperangan (Pelras, 2006:297).
Periode La Ummasa Petta Panre Bessie Mulaiye Panre
(1365 – 1398)
Naskah manuskrip kerajaan Bone (Lontaraq Akkarungeng
Ri Bone) mencatat La Ummasa merupakan Mangkau atau raja Bone ke II yang memerintah
pada tahun 1365-1398. Merupakan anak dari Manurungnge Ri Matajang Mata
silompoe, tokoh setengah mitos yang dipercaya turun dari dunia atas. La Ummasa
bergelar “Petta Panre Bessie Mulaiye Panre” Tuan kita sang pandai besi. Beliau
dikenal sebagai raja yang memiliki kecakapan dalam urusan pemerintahan dan
dikenal sangat mahir dalam penempaan besi. Di bawah kendali beliau kerajaan
Bone berkembang menjadi kerajaan besar yang tentu saja didukung dengan sistem
persenjataan yang begitu kuat dan lengkap.
Makam La Ummasa Petta Panre Bessie (1365-1398)
Dalam sejarah peradaban Bugis sosok La Ummasa bukanlah
orang yang pertama memulai penempaan besi akan tetapi beliau dikenal sebagai
sosok yang banyak melahirkan inovasi baru dalam hal penempaan besi. Inovasi beliau
banyak melahirkan ragam jenis senjata tradisional Bugis, perkakas pertanian dan
peralatan rumah tangga. La Ummasa menjadi salah satu cikal bakal lahirnya panre
bessi (pandai besi) di beberapa kerajaan Bugis yang pernah ada. Salah satu
panre bessi (pandai besi) yang tersohor dalam sejarah peradaban Bugis yakni
Panre Baitullah juga merupakan keturunan langsung dari La Ummassa. Beberapa
keturunan langsung beliau sampai hari ini masih dapat kita jumpai di wilayah
kabupaten Bone, Soppeng serta di daerah Babang Larompong Selatan kabupaten
Luwu.
Budaya Siri dan Pesse
Dalam kehidupan orang Bugis siri merupakan unsur yang
sangat prinsipil. Tidak ada satu nilai pun yang paling berharga untuk dibela
dan dipertahankan di muka bumi ini selain dari pada siri. Siri menyangkut harga
diri orang Bugis dalam mempertahankan harkat, derajat dan martabat. Orang-orang
yang masih berpegang teguh pada hal tersebut rela mengorbankan apa saja,
termasuk jiwa dan raganya sekalipun demi menegakkan siri itu sendiri.
Dalam ranah keluarga seorang laki-laki dianggap sebagai garda terdepan dalam penegakan siri terutama menjaga kehormatan kaum perempuan. Begitupun dengan pesse yang senantiasa sejalan dengan penegakan siri. Pesse sendiri dimaknai sebagai budaya empati yang berhubungan erat dengan identitas anggota kelompok sosial. Rasa saling pesse (empati) adalah kekuatan dalam mempersatukan kelompok sosial orang Bugis. Siri dan pesse merupakan sesuatu yang berkesinambungan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Pepatah Bugis mengatakan, “Kalaupun saudaraku sesama Bugis tidak menaruh siri atasku, setidaknya dia pasti masih menyisahkan pesse”
Dalam ranah keluarga seorang laki-laki dianggap sebagai garda terdepan dalam penegakan siri terutama menjaga kehormatan kaum perempuan. Begitupun dengan pesse yang senantiasa sejalan dengan penegakan siri. Pesse sendiri dimaknai sebagai budaya empati yang berhubungan erat dengan identitas anggota kelompok sosial. Rasa saling pesse (empati) adalah kekuatan dalam mempersatukan kelompok sosial orang Bugis. Siri dan pesse merupakan sesuatu yang berkesinambungan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Pepatah Bugis mengatakan, “Kalaupun saudaraku sesama Bugis tidak menaruh siri atasku, setidaknya dia pasti masih menyisahkan pesse”
Sumber : https://portalbugis.wordpress.com/
No comments:
Post a Comment